Selasa, 27 Oktober 2015

Akhir Sebuah Penantian





“aku tak akan pernah meningglkan kamu apapun yang terjadi, sampai kamu kembali” kata ini yang terakhir dia bilang saat mengantar ku di bandara saat aku pergi ke Paris.

Dia cinta pertama ku dan aku harus meninggalkannya ketika aku mendapat tawaran beasiswa kuliah jurusan design di paris, designer terkenal memang impian ku sejak kecil dan ketika aku lulus SMA, aku mendapat beasiswa itu dari DEPDIKBUD.

Aku tinggal di asrama khusus Pelajar yang disiapkan kedutaan Indonesia di paris, sebenarnya aku tak sanggup meninggalkan Indonesia, karena kelurga ku tinggal disana, tapi aku tau mereka selalu mendukung semua impian ku sejak kecil

“meski lo sibuk dan ga bisa ngabarin gue, gue bakal ngerti kok, karena gue bakal selalu jadi cowo yang paling ngertiin lo, dan jaga hati lo baik-baik ya, karena gue selalu sayang sama lo”

Dia memang pria yang sangat special, dia selalu bisa membuat ku tertawa, tau kesukaan ku, dan selalu bikin aku jadi wanita yang paling istimewa di dunia ini, karena hanya dia pria yang mampu membuatku seperti ini.

Kini usia ku genap 20 tahun sejak aku datang ke paris di usia 18 tahun, 3 tahun itu pun berlalu, dan 3 tahun pula aku tak pulang ke Indonesia, karena aku harus bekerja juga disini, dan setelah 3 tahun aku hidup di paris, besok aku akan pulang ke Indonesia, rasanya jantung ini berdegup kencang ketika inga perkataannya

“satu lagi, kalo kamu pulang ke Indonesia, jangan lupa tempat ini ya, aku bakal kesini tiap weekend, berharap kamu udah pulang dan mau ketemu aku”

(NEXT DAY)

            Aku sengaja terbang malam dari prancis, berharap aku sampai di Indonesia siang hari, dan aku bisa langsung bertemu orang tua ku, tanpa mengganggu jam tidur mereka.

            Dan benar saja aku sampai rumah pukul 11.00 dan bertemu ayah ibu ku, mereka sangat bahagia mendengar cerita ku selama di paris, aku sangat terharu saat aku datang ibu ku berlari dan memeluk ku dengan eratnya

akhirnya, anak ku pulang, andai kau tau betapa ibu merindukan kehadiran mu nak” kata ibu beruraian air mata

maaf aku baru pulang hari ini bu, aku harus menghabiskan kontrak kerja ku di paris dan kini aku lulus cumlaude bu” bisik kecil ku pada ibu.

alangkah bahagianya aku saat menyebut kata cumlaude seperti tak percaya ibu ku pun pingsan di pelukanku. Tak pernah ku bayangkan mungkin kebahagiaan yang aku rasakan lebih berpuluh kali lipat dari apa yang orang tua ku rasakan.

Tak cukup rasanya sehari suntuk aku bercengkrama, bercanda dan bercerita dengan ayah, ibu dan kakak laki-laki ku, malam pun tiba dan aku kembali ke kamar yang penuh dengan kenangan ini, tersimpan berbagai kenangan saat aku masih duduk di masa sekolah dulu, rasanya tak sabar untuk segera pergi kesana dan bertemu dengan sang pujaan hati.

(NEXT DAY)

Saat alarm di kamar ku berbunyi aku pun bergegas mandi dan sarapan bersama keluarga ku, nasi goreng ibu yang selalu ku rindukan dan cada tawa dimeja makan, tak mengurungkan niat ku untuk segera pergi kesana.
Aku pergi menggunakan mobil yang biasa kakak ku gunakan ke kantornya, berhubung ini hari sabtu dan dia mau bermalas-malasan dirumah jadi ku pakai untuk berjalan keliling kota.

Banyak yang berubah dari kota ku, dulu tak sepanas ini dan tak seramai ini, jalan-jalannya pun masih senggang meski memang banyak kendaraan tak sepadat ini, “semoga tempat itu tak berubah dan akan selalu seperti dulu” gumamku dalam hati.

Ketika aku sampai dan benar tak ada yang berubah dari tempat ini, masih saja asri meski sedikit panas tapi masih teduh dan nyaman. Aku duduk di bawah sebuah pohon yang menghadap langsung ke sebuah danau yang tidak terlalu jernih, karena sejak dulu danau ini memang keruh tapi banyak ikannya, angina bertiup mengantarku dalam lamunan, kala aku SMA dulu, saat dia menyapa ku dan meminta nomor hape ku, selalu membuat ku tertawa karena tingkah konyolnya, rayuannya yang kurang berkelas itu membuat kesan tersendiri dalam hati ku, apa kita bisa bertemu lagi.

“ Anisa~” sapa seorang pria di belakang ku, saat aku menoleh ternyata itu Beni, sahabat ku saat masih SMA dulu.
“BEBEN” sudah lama aku tak tak bertemu dengannya dan tak tau bagaimana kabarnya.

“Icha, astaga…. Lo kaya bang toyib tiga kali puasa, tiga kali lebaran ga pulang pulang tau ga” ucap beni, dengan logat betawinya.

“ahh, bisa aja.. gimana kabar ? ini anak yang pertama apa yang ke 11 ?” tanya ku.

“aeehh… bisa aja nih si mpok, ini ponakan gue, biasa lah lagi weekend jalan-jalan ame ncangnya dari pada minta ke mall truss hoping kan brabe gue, yaaa you know lah, namenye karyawan tanggung bulan kalo ga kere ya boke, hahaha”

“hahah iya deh, emang lo kerja dimana sekarang ?” tanya ku

“di kota, ya seminggu sekali pulang kesini, ketemu enya sama babeh, lo main disana ya tong, bae-bae lo nyebur ntar” dan keponakan beni pun pergi ketaman bermain.

“masih sering kontekan anak-anak ?” tanya ku.

“ya lumayan, lagi elo ngaku ke prancis, masa pesbuk kaga ada, mau ngubungin lo aja susah bener”

“bukan gaptek, Cuma kan lo tau gue kalo mau sukses y ague kudu total, jangankan lo orng tua gue aja Cuma bisa telepon ke nomer asrama aja, dan yang pentingkan sekarang gue udah pulang”

iye,sih Cuma kasian tuh si david”

David, dia satu-satunya alasan aku datang ketempat ini, dan hingga detik ini aku tak bertemu dengannya.

“kok diem ?” tanya beni

“ahh, engga emang kenapa ?”

“iya dia nungguin lu, dia kehilangan lo banget, dia pernah cerita sama gue bakal nunggu lo sampai kapan pun, kayanya dia beneran saying sama lo ca”

Apa benar dia masih menunggu ku hingga saat ini, apa dia sesedih itu ketika aku pergi, dan kenapa dia tak datang kesini.

“Aniiiissaaa~ ettdaah, gue ngomong ga denger juga, jangan-jangan lo masih diparis dan gue Cuma liat jasad lo, astaga…”

“duuhh.. lo berisik banget deh, apa semua orang betawi mulutnya ada sejuta ya ?” tanya ku.

“dih dia sewot, lagi lu bengong mulu, kaya ayam mau betelor tau ga, noh dicariin David 3 tahun nungguin lo dia”

“lo tau sekarang dia dimana ?” tanya ku.

“gue denger sih dia kerja di kota sama kaya gue, Cuma beda perusahaan, ohh, ntar malem ada acara reuni di SMA yang diadain sama OSIS, sekalian galang dana buat korban Gaza, lo mesti ikut ye ?”

Reuni david pasti datang, sebaiknya aku pun pergi sekaligus bertemu sahabat lama ku disana.

“Woooooyy… cape gue lama-lama kalo lo bengong terus.”

“iya, siap-siap, jam berapa nanti gue pasti datang” ucap ku penuh semangat.

“seneng bener mau ketemu david, ohh tenang selama lo datang sama beni, nanti gue jemput ke rumah lo, udah lama juga ga ketemu si mamih”

“siap” jawab ku. Dan banyak perbincangan ku dengan beni selama di danau, menemani Ari (keponakan beni) bermain dan makan ice cream bersama mempererat suasana persahabatan kami.

Hingga sore tiba aku tak melihat tanda-tanda kedatangannya di tempat ini, dan akhirnya aku pun pulang, dan menyiapkan diri untuk pergi ke acara reuni malam ini.

“ kau mau kemana ?” tanya kakak ku.

“ada reuni di SMA, tadi aku ketemu beni dia ngajak aku kesana, kakak mau ikut ?’ kakak ku memang satu SMA dengan ku dulu, hanya bedanya dia masuk Universitas Indonesia.

“ahh tidak, aku ada janji dengan devi malam ini, kau tak ada rencana pakai mobil ku kan ?”

“sebentar kak, seingat ku beni kesini pakai sepeda motornya yang butut itu, apa kakak tega aku datang bersamanya naik motornya yang sering mogok itu ?” rengek ku.

“ahh, ya sudah aku pinjam mobil ayah” ucap kakak dan segera pergi.

            Tak sabar rasnya menunggu beni datang dan pergi ke sekolah ku dulu, setelah beberapa lama memandang lemari akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan dres pendek berwarna hitam dan soft cardigan panjang ku, dan seingat ku david sangat suka dengan pakaian ini.

            Jam menunjukan pukul 07.00 malam beni pun datang menggunakan kaos hitam, jacket dan celana denim, terlihat lebih dewasa dan mascoolin sekali otong betawi yang satu ini.

“ceeeilllaaa…. Cantik bener yang mau ketemu bang dapit” ujar beni

“apasih, salah ? apa gue harus dandan kaya lo nih, jadi tomboy kaya dulu “ jawabku,

“weeyyy, jangan-jangan gini aje ye… nyok ahh” ajak beni nembengkokkan tangannya

“ben, kita ga naik si jeruk lo itu kan ?” tanya ku sedikit panic.

“you think, gue sejahat itu ? oh my to the god, ya kaga lah, kita naik ntu” beni menunjuk sebuah mobil Honda jazz berwarna biru terparkir di depan rumah ku.

“lo ngerental dimana ?” tanya ku

“ett.dah ni bocah demen bener hina gue, ntu mobil gue namenye si njeesss…” dia memang pria aneh yang selalu membuat ku tertawa.

“hahaha ape kate lo lah bang, dahh ayoo…”

Kami pun pergi ke acara tersebut, sepanjang jalan beni hanya mengoceh tak ubahnya seekor burung yang sedang menarik perhatian pasangannya, namun berkat kehadiran beni rasa tegang dan canggung yang ada dalam diri ku telah hilang, mungkin beni terbisa datang ke acara seperti ini, karena memang diadakan setiap 2 tahun sekali, tapi ini pertama kalinya aku datang keacara seperti ini.

Sesampai ku disana ternyata banyak sekali alumni yang datang menurut penuturan beni ini reuni terbesar karena diadakan dari angkatan 1 sampai angkatan akhir.

“ben, ini rame banget pulang aja yuk” ajak ku.

“ lo.. aduh udah ganteng ini gue, ye illahh, ayo” beni pun turun dan membukakan pintu mobilnya untuk ku.

“tapi, ben..”

“ayo…” aku pun jalan bersama beni,

awalnya aku menggandeng tangannya dan semua orang memperhatikan ku, semakin banyak orang semakin aku jadi pusat perhatian, seperti ada yang salah pada ku, apa pakaian ku aneh hari ini.

Harusnya aku mengenakan celana jeans dan kaos hitam hari ini,

“BENI…..” teriak salah satu orang ditengah kerumunan dan itu adalah, rosa adik kelas ku dulu.

“oca… ben, ini ka ica ?” tanya rosa

“rosa ya, masih inget sama kaka ?’” sapa ku manis

“ya ampun ka ica, akhirnya datang juga ke sini, aku pikir kakak di paris

“iye, gue yang jemput dia ke pariis, lagi kaga pulang-pulang” ujar beni.

“bisa aja lo bang, ehh… ayo kak, ada ka david di dalem”

“tunggu, kenapa gue selalu dihubungkan dengan david” ditengah pembicaraan ku, aku ditarik ke tengah kerumunan, dan tiba-tiba lampunya meredup.

            Sebenarnya ada apa ini, ditengah kegelapan itu, ada sebuah layar yang menunjukan semua foto kala aku masih bersama david, semua kenangan tentang aku dan dan david, dan aku terhenyak ketika ada tayangan saat david berkata.

“ setelah sekian lama, aku nunggu kamu, sekian tahun aku berjuang buat dapetin sebongkah hati milik sang putrid, dan sekian lama menunggu di sebuah tempat yang selalu sepi, ANISA NUR FITRI, dibalik perjuangan panjang mu meraih cita-cita, aku disini memperjuangkan cinta kita, dan semua harus tau akhir dari semua perjuangan ini”

“ Dari mana dia dapat foto ijazah ku dan saat aku wisuda, sahabat ku saat di paris, sebenarnya ini acara apa “ ucap ku. Dan lampu sorot pun menyala kearah ku, saata ku melihat kebawah ada David berlutut membawa sebuket bunga dan sebuah cincin

“WILL YOU MERRY ME ?” ………..

Ya tuhan, ini acara amal kenapa dia melamar ku dengan cara seperti ini, apa yang dia lakuakan kenapa dia membuat ku malu, tapi jika ku tolak betapa hancur perasaannya, mungkin memang aku harus percaya dengan segala perjuangannya dan memang hanya dia yang bisa membuat ku seperti ini.

            “Yes.. I do….” Jawabku.

Dan semua orang pun bersorak gembira, terlihat ada ayah, ibu, kakak, dan orang tua david datang kearah ku dan memberi ucapan selamat, dan semua alumni pun menyelamati aku dan david, setelah kondisi sekitar tak lagi ricuh aku bertanya pada david.

“ aku masih ga ngerti, aku baru pulang datang ke danau, ketemu beni, kata beni ada reuni buat baksos, dan saat aku datang kamu matiin lampu dan….”

“sebenernya ini memang acara baksos kak” ucap rosa dibelakang ku.

“iye, jadi gini, satu minggu yang lalu ada rapat tentang baksos yang diadain sama para alumni dan anak osis, untuk mengundang banyak orang kita perlu sesuatu yang besar dan menarik, karena ini baksos, jadi digunakan dana seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil sebesar mungkin.” Ucap beni

“maka dari itu, aku ngajuin diri buat bikin acara menyambut kedatangan kamu, aku dapet info dari mamah kamu” terus david.

“terus, tentang lamaran ini ?” tanya ku

“ini usul ayah, ayah kasih tantangan sama dia kalau memang serius sama anak ayah, jangan pacaran lagi, dan dia ngelakuin ini” entah dari mana ayah pun menyambut perkataan ku.

“jadi david dibayar untuk melamar ku ?” tanya ku

“meski begitu tapi banyak orang yang mau bayar mahal ka, uang yang kita kumpulin itu sebanyak satu milyar rupiah, dan semuanya mau kita sumbangin” ucap rosa.

secara ga langsung lo nyumbang banyak buat mereka” ucap beni.
“biar kamu pikir ini semua settingan, tapi aku serius tentang lamaran itu.” Kata david.

Tuhan memang selalu bisa membahagia kan umatnya meski tak seperti apa yang umatnya mohon, dan hanya tuhan yang tau apa yang kita butuhkan bukan apa yang dia mau, dan dibalik sebuah penantian panjang pasti ada balasan yang setimpal dengan pengorbanan itu.



*TAMAT*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut