“aku tak akan pernah
meningglkan kamu apapun yang terjadi, sampai kamu kembali” kata ini yang terakhir dia bilang saat
mengantar ku di bandara saat aku pergi ke Paris.
Dia cinta pertama ku dan aku harus meninggalkannya
ketika aku mendapat tawaran beasiswa kuliah jurusan design di paris, designer
terkenal memang impian ku sejak kecil dan ketika aku lulus SMA, aku mendapat
beasiswa itu dari DEPDIKBUD.
Aku tinggal di asrama khusus Pelajar
yang disiapkan kedutaan Indonesia di paris, sebenarnya aku tak sanggup meninggalkan
Indonesia, karena kelurga ku tinggal disana, tapi aku tau mereka selalu
mendukung semua impian ku sejak kecil
“meski
lo sibuk dan ga bisa ngabarin gue, gue bakal ngerti kok, karena gue bakal
selalu jadi cowo yang paling ngertiin lo, dan jaga hati lo baik-baik ya, karena
gue selalu sayang sama lo”
Dia memang pria yang sangat special,
dia selalu bisa membuat ku tertawa, tau kesukaan ku, dan selalu bikin aku jadi wanita
yang paling istimewa di dunia ini, karena hanya dia pria yang mampu membuatku
seperti ini.
Kini usia ku genap 20 tahun sejak aku
datang ke paris di usia 18 tahun, 3 tahun itu pun berlalu, dan 3 tahun pula aku
tak pulang ke Indonesia, karena aku harus bekerja juga disini, dan setelah 3
tahun aku hidup di paris, besok aku akan pulang ke Indonesia, rasanya jantung
ini berdegup kencang ketika inga perkataannya
“satu
lagi, kalo kamu pulang ke Indonesia, jangan lupa tempat ini ya, aku bakal
kesini tiap weekend, berharap kamu udah pulang dan mau ketemu aku”
(NEXT
DAY)
Aku sengaja terbang malam dari
prancis, berharap aku sampai di Indonesia
siang hari, dan aku bisa langsung bertemu orang tua ku, tanpa mengganggu jam
tidur mereka.
Dan benar saja aku sampai rumah
pukul 11.00 dan bertemu ayah ibu ku, mereka sangat bahagia mendengar cerita ku
selama di paris, aku sangat terharu saat aku datang ibu ku berlari dan memeluk
ku dengan eratnya
“akhirnya,
anak ku pulang, andai kau tau betapa ibu merindukan kehadiran mu nak” kata
ibu beruraian air mata
“maaf
aku baru pulang hari ini bu, aku harus menghabiskan kontrak kerja ku di paris
dan kini aku lulus cumlaude bu” bisik kecil ku pada ibu.
alangkah
bahagianya aku saat menyebut kata cumlaude seperti tak percaya ibu ku pun
pingsan di pelukanku. Tak pernah ku bayangkan mungkin kebahagiaan yang aku
rasakan lebih berpuluh kali lipat dari apa yang orang tua ku rasakan.
Tak cukup rasanya sehari suntuk aku
bercengkrama, bercanda dan bercerita dengan ayah, ibu dan kakak laki-laki ku, malam
pun tiba dan aku kembali ke kamar yang penuh dengan kenangan ini, tersimpan
berbagai kenangan saat aku masih duduk di masa sekolah dulu, rasanya tak sabar
untuk segera pergi kesana dan bertemu dengan sang pujaan hati.
(NEXT
DAY)
Saat alarm di kamar ku berbunyi aku
pun bergegas mandi dan sarapan bersama keluarga ku, nasi goreng ibu yang selalu
ku rindukan dan cada tawa dimeja makan, tak mengurungkan niat ku untuk segera
pergi kesana.
Aku pergi menggunakan mobil yang biasa
kakak ku gunakan ke kantornya, berhubung ini hari sabtu dan dia mau bermalas-malasan
dirumah jadi ku pakai untuk berjalan keliling kota.
Banyak yang berubah dari kota ku, dulu tak sepanas
ini dan tak seramai ini, jalan-jalannya pun masih senggang meski memang banyak
kendaraan tak sepadat ini, “semoga tempat
itu tak berubah dan akan selalu seperti dulu” gumamku dalam hati.
Ketika aku sampai dan benar tak ada
yang berubah dari tempat ini, masih saja asri meski sedikit panas tapi masih
teduh dan nyaman. Aku duduk di bawah sebuah pohon yang menghadap langsung ke
sebuah danau yang tidak terlalu jernih, karena sejak dulu danau ini memang
keruh tapi banyak ikannya, angina bertiup mengantarku dalam lamunan, kala aku
SMA dulu, saat dia menyapa ku dan meminta nomor hape ku, selalu membuat ku
tertawa karena tingkah konyolnya, rayuannya yang kurang berkelas itu membuat
kesan tersendiri dalam hati ku, apa kita bisa bertemu lagi.
“
Anisa~” sapa seorang
pria di belakang ku, saat aku menoleh ternyata itu Beni,
sahabat ku saat masih SMA dulu.
“BEBEN” sudah lama aku tak tak bertemu
dengannya dan tak tau bagaimana kabarnya.
“Icha,
astaga…. Lo kaya bang toyib tiga kali puasa, tiga kali lebaran ga pulang pulang
tau ga” ucap beni,
dengan logat betawinya.
“ahh,
bisa aja.. gimana kabar ? ini anak yang pertama apa yang ke 11 ?” tanya ku.
“aeehh…
bisa aja nih si mpok, ini ponakan gue, biasa lah lagi weekend jalan-jalan ame
ncangnya dari pada minta ke mall truss hoping kan brabe gue, yaaa you know lah,
namenye karyawan tanggung bulan kalo ga kere ya boke, hahaha”
“hahah
iya deh, emang lo kerja dimana sekarang ?” tanya ku
“di
kota, ya
seminggu sekali pulang kesini, ketemu enya sama babeh, lo main disana ya tong,
bae-bae lo nyebur ntar”
dan keponakan beni pun pergi ketaman bermain.
“masih
sering kontekan anak-anak ?”
tanya ku.
“ya
lumayan, lagi elo ngaku ke prancis, masa pesbuk kaga ada, mau ngubungin lo aja
susah bener”
“bukan
gaptek, Cuma kan lo tau gue kalo mau sukses y ague kudu total, jangankan lo
orng tua gue aja Cuma bisa telepon ke nomer asrama aja, dan yang pentingkan
sekarang gue udah pulang”
“iye,sih
Cuma kasian tuh si david”
David, dia satu-satunya alasan aku
datang ketempat ini, dan hingga detik ini aku tak bertemu dengannya.
“kok
diem ?” tanya beni
“ahh,
engga emang kenapa ?”
“iya
dia nungguin lu, dia kehilangan lo banget, dia pernah cerita sama gue bakal
nunggu lo sampai kapan pun, kayanya dia beneran saying sama lo ca”
Apa benar dia masih menunggu ku hingga
saat ini, apa dia sesedih itu ketika aku pergi, dan kenapa dia tak datang
kesini.
“Aniiiissaaa~
ettdaah, gue ngomong ga denger juga, jangan-jangan lo masih diparis dan gue
Cuma liat jasad lo, astaga…”
“duuhh..
lo berisik banget deh, apa semua orang betawi mulutnya ada sejuta ya ?” tanya ku.
“dih
dia sewot, lagi lu bengong mulu, kaya ayam mau betelor tau ga, noh dicariin David
3 tahun nungguin lo dia”
“lo
tau sekarang dia dimana ?”
tanya ku.
“gue
denger sih dia kerja di kota sama kaya gue, Cuma beda perusahaan, ohh, ntar
malem ada acara reuni di SMA yang diadain sama OSIS, sekalian galang dana buat
korban Gaza, lo mesti ikut ye ?”
Reuni david pasti datang, sebaiknya
aku pun pergi sekaligus bertemu sahabat lama ku disana.
“Woooooyy…
cape gue lama-lama kalo lo bengong terus.”
“iya,
siap-siap, jam berapa nanti gue pasti datang” ucap ku penuh semangat.
“seneng
bener mau ketemu david, ohh tenang selama lo datang sama beni, nanti gue jemput
ke rumah lo, udah lama juga ga ketemu si mamih”
“siap” jawab ku. Dan banyak perbincangan ku
dengan beni selama di danau, menemani Ari (keponakan beni) bermain dan makan
ice cream bersama mempererat suasana persahabatan kami.
Hingga sore tiba aku tak
melihat tanda-tanda kedatangannya di tempat ini, dan akhirnya aku pun pulang,
dan menyiapkan diri untuk pergi ke acara reuni malam ini.
“
kau mau kemana ?”
tanya kakak ku.
“ada
reuni di SMA, tadi aku ketemu beni dia ngajak aku kesana, kakak mau ikut ?’ kakak ku memang satu SMA dengan ku
dulu, hanya bedanya dia masuk Universitas Indonesia.
“ahh
tidak, aku ada janji dengan devi malam ini, kau tak ada rencana pakai mobil ku kan ?”
“sebentar
kak, seingat ku beni kesini pakai sepeda motornya yang butut itu, apa kakak
tega aku datang bersamanya naik motornya yang sering mogok itu ?” rengek ku.
“ahh,
ya sudah aku pinjam mobil ayah” ucap kakak dan segera pergi.
Tak sabar rasnya menunggu beni datang dan pergi ke
sekolah ku dulu, setelah beberapa lama memandang lemari akhirnya aku memutuskan
untuk menggunakan dres pendek berwarna hitam dan soft cardigan panjang ku, dan
seingat ku david sangat suka dengan pakaian ini.
Jam
menunjukan pukul 07.00 malam beni pun datang menggunakan kaos hitam, jacket dan
celana denim, terlihat lebih dewasa dan mascoolin sekali otong betawi yang satu
ini.
“ceeeilllaaa….
Cantik bener yang mau ketemu bang dapit” ujar beni
“apasih,
salah ? apa gue harus dandan kaya lo nih, jadi tomboy kaya dulu “ jawabku,
“weeyyy,
jangan-jangan gini aje ye… nyok ahh” ajak beni nembengkokkan tangannya
“ben,
kita ga naik si jeruk lo itu kan
?” tanya ku sedikit panic.
“you
think, gue sejahat itu ? oh my to the god, ya kaga lah, kita naik ntu” beni
menunjuk sebuah mobil Honda jazz berwarna biru terparkir di depan rumah ku.
“lo
ngerental dimana ?” tanya ku
“ett.dah
ni bocah demen bener hina gue, ntu mobil gue namenye si njeesss…” dia memang
pria aneh yang selalu membuat ku tertawa.
“hahaha
ape kate lo lah bang, dahh ayoo…”
Kami
pun pergi ke acara tersebut, sepanjang jalan beni hanya mengoceh tak ubahnya
seekor burung yang sedang menarik perhatian pasangannya, namun berkat kehadiran
beni rasa tegang dan canggung yang ada dalam diri ku telah hilang, mungkin beni
terbisa datang ke acara seperti ini, karena memang diadakan setiap 2 tahun
sekali, tapi ini pertama kalinya aku datang keacara seperti ini.
Sesampai
ku disana ternyata banyak sekali alumni yang datang menurut penuturan beni ini
reuni terbesar karena diadakan dari angkatan 1 sampai angkatan akhir.
“ben,
ini rame banget pulang aja yuk” ajak ku.
“
lo.. aduh udah ganteng ini gue, ye illahh, ayo” beni pun turun dan membukakan pintu
mobilnya untuk ku.
“tapi,
ben..”
“ayo…” aku pun jalan bersama beni,
awalnya aku menggandeng
tangannya dan semua orang memperhatikan ku, semakin banyak orang semakin aku
jadi pusat perhatian, seperti ada yang salah pada ku, apa pakaian ku aneh hari
ini.
Harusnya aku mengenakan
celana jeans dan kaos hitam hari ini,
“BENI…..” teriak salah satu orang ditengah
kerumunan dan itu adalah, rosa adik kelas ku
dulu.
“oca…
ben, ini ka ica ?” tanya rosa
“rosa
ya, masih inget sama kaka ?’”
sapa ku manis
“ya
ampun ka ica,
akhirnya datang juga ke sini, aku pikir kakak di paris”
“iye, gue yang jemput dia ke pariis,
lagi kaga pulang-pulang” ujar beni.
“bisa aja lo bang, ehh… ayo kak, ada
ka david di dalem”
“tunggu, kenapa gue selalu dihubungkan
dengan david” ditengah pembicaraan ku, aku ditarik ke tengah kerumunan, dan
tiba-tiba lampunya meredup.
Sebenarnya
ada apa ini, ditengah kegelapan itu, ada sebuah layar yang menunjukan semua
foto kala aku masih bersama david, semua kenangan tentang aku dan dan david,
dan aku terhenyak ketika ada tayangan saat david berkata.
“
setelah sekian lama, aku nunggu kamu, sekian tahun aku berjuang buat dapetin
sebongkah hati milik sang putrid, dan sekian lama menunggu di sebuah tempat
yang selalu sepi, ANISA NUR FITRI, dibalik perjuangan panjang mu meraih
cita-cita, aku disini memperjuangkan cinta kita, dan semua harus tau akhir dari
semua perjuangan ini”
“ Dari mana dia dapat
foto ijazah ku dan saat aku wisuda, sahabat ku saat di paris, sebenarnya ini
acara apa “ ucap ku. Dan lampu sorot pun menyala kearah ku, saata ku melihat
kebawah ada David berlutut membawa sebuket bunga dan sebuah cincin
“WILL
YOU MERRY ME ?” ………..
Ya tuhan, ini acara amal kenapa dia
melamar ku dengan cara seperti ini, apa yang dia lakuakan kenapa dia membuat ku
malu, tapi jika ku tolak betapa hancur perasaannya, mungkin memang aku harus
percaya dengan segala perjuangannya dan memang hanya dia yang bisa membuat ku
seperti ini.
“Yes.. I do….” Jawabku.
Dan semua orang pun bersorak gembira,
terlihat ada ayah, ibu, kakak, dan orang tua david datang kearah ku dan memberi
ucapan selamat, dan semua alumni pun menyelamati aku dan david, setelah kondisi
sekitar tak lagi ricuh aku bertanya pada david.
“
aku masih ga ngerti, aku baru pulang datang ke danau, ketemu beni, kata beni
ada reuni buat baksos, dan saat aku datang kamu matiin lampu dan….”
“sebenernya
ini memang acara baksos kak”
ucap rosa dibelakang ku.
“iye,
jadi gini, satu minggu yang lalu ada rapat tentang baksos yang diadain sama
para alumni dan anak osis, untuk mengundang banyak orang kita perlu sesuatu yang
besar dan menarik, karena ini baksos, jadi digunakan dana seminimal mungkin
untuk mendapatkan hasil sebesar mungkin.” Ucap beni
“maka
dari itu, aku ngajuin diri buat bikin acara menyambut kedatangan kamu, aku
dapet info dari mamah kamu”
terus david.
“terus,
tentang lamaran ini ?”
tanya ku
“ini
usul ayah, ayah kasih tantangan sama dia kalau memang serius sama anak ayah,
jangan pacaran lagi, dan dia ngelakuin ini” entah dari mana ayah pun menyambut perkataan ku.
“jadi
david dibayar untuk melamar ku ?”
tanya ku
“meski
begitu tapi banyak orang yang mau bayar mahal ka, uang yang kita kumpulin itu
sebanyak satu milyar rupiah, dan semuanya mau kita sumbangin” ucap rosa.
“secara
ga langsung lo nyumbang banyak buat mereka” ucap beni.
“biar
kamu pikir ini semua settingan, tapi aku serius tentang lamaran itu.” Kata david.
Tuhan memang selalu bisa membahagia kan umatnya meski tak
seperti apa yang umatnya mohon, dan hanya tuhan yang tau apa yang kita butuhkan
bukan apa yang dia mau, dan dibalik sebuah penantian panjang pasti ada balasan
yang setimpal dengan pengorbanan itu.
*TAMAT*